Rechterlijk Pardon sebagai Diskresi Yudisial pada Pengadilan Negeri Ambon
DOI:
https://doi.org/10.65244/jggls.v2i2.817Keywords:
Haikim's Consideration, Hukum Pidana, Sistem Peradilan PidanaAbstract
Artikel ini menganalisis rechterlijk pardon sebagai diskresi yudisial dalam perkara penganiayaan ringan pada Pengadilan Negeri Ambon. Penelitian hukum normatif ini menggunakan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus dengan bahan hukum berupa Kitab Undang-Undang Hukum Pidana nasional tahun 2023, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana tahun 2025, instrumen Mahkamah Agung, informasi perkara publik, dan literatur hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rechterlijk pardon merupakan mekanisme pemidanaan yang terstruktur dan berlandaskan legalitas, proporsionalitas, kemanusiaan, serta keadilan restoratif, bukan bentuk impunitas. Penerapannya dalam perkara ringan dapat mencegah pemidanaan berlebihan sepanjang pertimbangan hakim menilai kepentingan korban, kebutuhan pemidanaan, pemulihan setelah perbuatan, dan konsistensi indikator putusan secara transparan.
Downloads
References
Alfret, A., & Frans, M. P. (2023). Konsep putusan pemaaf oleh hakim (rechterlijk pardon) sebagai jenis putusan baru dalam KUHAP. KRTHA Bhayangkara, 17(3), 587-600. https://doi.org/10.31599/krtha.v17i3.2968
Antara. (2026, March 5). Hakim PN Ambon jatuhkan putusan pemaafan pada Raja Hulaliu. Antara News Ambon. https://ambon.antaranews.com/berita/320091/hakim-pn-ambon-jatuhkan-putusan-pemaafan-pada-raja-hulaliu
Bangun, A. R. (2025). Pemaafan hakim (rechterlijk pardon) dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru di sistem pemidanaan Indonesia. Ius Civile: Refleksi Penegakan Hukum dan Keadilan, 9(2). https://jurnal.utu.ac.id/jcivile/article/view/13035
Barlian, A. E., & Arief, B. N. (2017). Formulasi ide permaafan hakim (rechterlijk pardon) dalam pembaharuan sistem pemidanaan di Indonesia. Law Reform, 13(1), 28-44. https://doi.org/10.14710/lr.v13i1.15949
Farikhah, M. (2018). Rekonseptualisasi judicial pardon dalam sistem hukum Indonesia: Studi perbandingan sistem hukum Indonesia dengan sistem hukum Barat. Jurnal Hukum & Pembangunan, 48(3), 556-588. https://doi.org/10.21143/jhp.vol48.no3.1746
Flora, H. S. (2022). Restorative justice in the new Criminal Code in Indonesia: A prophetic legal study. Rechtsidee, 10(2). https://doi.org/10.21070/jihr.v11i0.836
Hakim, J., & Amedi, A. M. (2023). Prosecutorial application of restorative justice: Overview, mechanism, and commentary on prosecution cessation. Jurnal Hukum dan Peradilan, 12(2), 319-346. https://doi.org/10.25216/jhp.12.2.2023.319-346
Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2024). Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pedoman Mengadili Perkara Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif.
Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2026). Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Implementasi KUHP 2023 dan KUHAP 2025.
MalukuTerkini.com. (2026, March 3). PN Ambon vonis pemaafan perdana sejak berlaku KUHP nasional. https://www.malukuterkini.com/2026/03/03/pn-ambon-vonis-pemaafan-perdana-sejak-berlaku-kuhp-nasional/
Manafe, V. A., & Gultom, E. R. (2024). Asas maaf hakim (rechterlijk pardon) sebagai upaya penyelesaian tindak pidana ringan untuk pembaharuan hukum pidana nasional. Ensiklopedia of Journal, 6(4). https://doi.org/10.33559/eoj.v6i4.2592
Meliala, N. C. (2020). Rechterlijk pardon (pemaafan hakim): Suatu upaya menuju sistem peradilan pidana dengan paradigma keadilan restoratif. Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan, 8(3), 551-568. https://doi.org/10.29303/ius.v8i3.820
Pengadilan Negeri Ambon. (2026). Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Ambon. https://sipp.pn-ambon.go.id
Rahman, W., Sudarsono, S., Djatmika, P., Madjid, A., & Rehulina, R. (2024). Discretion of government officials detrimental to state finances: The intersection between administrative illegality and criminal illegality. Law Reform, 20(2), 230-249. https://doi.org/10.14710/lr.v20i2.64129
Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Republik Indonesia. (2025). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Saputro, A. A. (2016). Konsepsi rechterlijk pardon atau pemaafan hakim dalam Rancangan KUHP. Mimbar Hukum, 28(1), 61-76. https://doi.org/10.22146/jmh.15867
Suhariyanto, B. (2017). Kedudukan perdamaian sebagai penghapus pemidanaan guna mewujudkan keadilan dalam pembaruan hukum pidana. Jurnal RechtsVinding, 6(1), 1-20. https://doi.org/10.33331/rechtsvinding.v6i1.127
Sukma, F., & Cumbhadrika, C. (2023). Urgensi penerapan rechterlijk pardon sebagai pembaharuan hukum pidana dalam perspektif keadilan restoratif. Gorontalo Law Review, 6(1). https://jurnal.unigo.ac.id/index.php/golrev/article/view/2678
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Murni Karmila Salampessy (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with Journal of Golden Generation Legal Science agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the Journal of Golden Generation Legal Science right of first publication with the work simultaneously This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors can enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or edit it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) before and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.









